Jodoh; dikira Kamu ternyata Dia


“Aku mencintaimu

itu sebabnya aku takkan pernah selesai

mendoakan keselamatanmu”

 (Sapardi Djoko Damono dalam buku Hujan Bulan Juni)

Rabu pagi di bulan Mei, selesai juga saya membaca buku “Jodoh” karya Fhad Pahdepie, sebuah novel bersampul merah dengan isi cerita yang sederhana namun penuh makna, cerita yang bahagia tapi lebih sering membuat saya menangis. Loh bukannya ini cerita bahagia? Iya, jika kita memahami isi kepala dua tokoh utama Keara dan Sena.

Cinta yang dipupuk sejak dini, atas rasa yang bertahun-tahun terus diusahakan untuk selalu tumbuh dan terjaga, membuat Keara dan Sena selalu berjuang untuk hubungan yang ingin dicapai mereka berdua; pernikahan. Tapi, impian itu hilang seketika, sebab Keara ternyata berjodoh dengan hal lain.

Bagaiamana kamu memikirkan jodoh itu? Sesempit dua orang manusia saling cinta? Atau seluas pertemuan kepada kematian?

Jodoh tidak pernah sesederhana imajinasi kita, yang hanya dua orang saling mencintai lalu bersatu dengan mudahnya. Jodoh itu rahasia paling rapat di bumi. Kita mungkin akan selalu bertemu dengan orang yang berbeda tiap harinya, berpeluang untuk menjadi jodoh, tidak lepas ada atau tidak yang berhasil singgah, jika betah ia akan menetap, jika sebaliknya maka kita akan merasakan kehilangan.

“Rasa kehilangan adalah pengalaman ajaib yang membuat kita lebih mengerti tentang rasa memiliki” (Jodoh hal. 81)

Ada kalimat yang paling saya suka dari buku “Jodoh” kurang lebih seperti ini:

“Kadang-kadang jodoh bukan cuma soal cinta atau sayang … jodoh bukan cuman soal perasaan” (jodoh amri hal.174)

Kalimat itu diucapkan Amri (sahabat Keara dan Sena) yang berusaha meyakinkan kembali Sena akan niatnya untuk menikahi Keara. Bagaimana? Kita pasti sedang berpikirkan? Jujur setelah membaca kalimat itu, saya selalu bertanya ke diri sendiri:

“Bagaimana jika suatu hari seseorang datang dan menawari saya untuk hidup bersamanya, yang saya tahu dia datang setelah penolakan-penolakan dari pilihan utamanya,?”

Dengan kata lain saya ini tidak pernah masuk dalam pilihan utamanya. Bagaiamana saya harus menyikapinya?

“Bagaimana saya menerima seseorang yang datang, menawari saya untuk hidup bersamanya, tanpa rasa cinta apapun, tanpa rasa sayang apapun ke saya, dia memilih saya hanya karena kemungkinan saya tidak akan menolaknya?”.

Jika dia memilihmu hanya karena merasa kamu yang bisa menerima dia apa adanya, hanya karena dia tahu kamu pasti akan menerimanya. Belum karena rasa cinta atau rasa nyaman yeng membuatnya betah. Bagaimana kamu menyikapinya? Haruskah rasa cinta dahulu? Apa alasan ini belum cukup untuk kamu mempertimbangkannya?

Sebagai perempuan, tentunya kita menginginkan seseorang yang mencintai kita, sebesar kita mencintainya. Tapi, mari kita kembali lagi ke kalimat Amri kepada Sena, “Kadang-kadang jodoh bukan cuma soal cinta atau sayang … jodoh bukan cuman soal perasaan”.

Dari detik ini, kita mungkin akan selalu bertanya perihal misteri jodoh itu sendiri, yang kita punya hanya bisa mempersiapkan jawaban terbaik, jika suatu hari nanti dia memilihmu tanpa rasa apapun atau justru perasaanya penuh kepadamu. Berdoalah, Tuhan tidak pernah tidur

Jodoh itu begitu, dikira kamu ternyata dia. Dikira jauh ternyata tak kurang seinci didekap. Dikira di depan mata, ternyata jauh di seberang lautan. Jodoh itu begitu, dikira selamanya dia, ternyata masih ada peluang bertemu satu, dua atau tiga orang yang berkemungkinan hidup di dalam hati kita.

 

Di dalam rumah yang hanya ada saya seorang

Nourah, 28 Mei 2021

 

 

Komentar